Monday, August 16, 2010

MAKNA PERNIKAHAN DI MATA FITRI

Berawal dari sebaris tanya…

*FLASHBACK*

“Fit, mau ndak kalau diajak nikah tanpa ada apa-apa?”
Pertanyaan aneh tersebut tiba – tiba saja meluncur dari mulut mbak Linda. Saya yang sejak tadi duduk di depan pintu sambil berkutat dengan kaus kaki saya yang bau*hehehe*dengan segera langsung menoleh ke arah ruang tamu, tempat mbak Lin tengah asyik berbincang dengan Mas Mus, sambil memiringkan kepala.

Mungkin karena saat itu agak terburu – buru ( baca: tidak mau terlambat masuk kuliah ) sehingga tidak terlalu menghiraukan pertanyaan tersebut, saya pun hanya bisa menjawab ”Heh?” dan ”insyaAllah” bersamaan sambil terus berkutat dengan kesibukan saya, terbenam dengan urusan kaos kaki dan sepatu.

*END FLASHBACK*

Dan sekarang...dengan wajah menatap layar monitor, jari tangan bertengger manis di atas tuts - tuts keyboard...saya kembali memikirkan pertanyaan yang pernah diajukan mbak Lin tersebut.
”Mau ndak kalau diajak nikah tanpa ada apa – apa?”
Saya paham maksud ”apa – apa’ yang ingin ditekankan oleh mbak Lin adalah seserahan dalam lamaran dan resepsi yang biasanya digelar oleh pasangan yang akan menikah. Dan bukan hal baru lagi kalau di zaman serba modern ini setiap wanita menginginkan acara pernikahan yang ’wah’ dengan alasan ’hanya terjadi sekali seumur hidup’( jika kita mau mengansumsikan bahwa pernikahan tersebut bakal awet sampai uzur ). Paling tidak harus ada pesta dengan kedua mempelai duduk di atas singgasana dengan mengenakan pakaian kebesaran merekalah ( baca: gaun pengantin ).

Lantas apa pendapat Fitri, ehm...saya sendiri?

Menanggapi masalah pernikahan, saya rasa saya bukan tipe wanita yang terlalu ngoyo dalam artian segala sesuatunya harus dirayakan. Saya cenderung termasuk tipe yang lebih menyukai kesederhanaan. Akad nikah dilanjutkan dengan walimahan sederhana sudah cukup. Tak perlu pasang tenda besar...tak perlu gaun pengantin mewah...atau ribuan tamu undangan dengan sajian makanan prasmanan yang menggugah selera. Biasa aja deh...

Ikatan suci pernikahan tidak bisa dinilai hanya sebatas ’sebarapa banyak anda mendapat seserahan aneka warna’. Bukankan tujuan utama kita menikah adalah untuk beribadah kepada Allah? Bukankah melaksanakan pernikahan adalah salah satu upaya kita mengikuti sunnah Rasulullah? Bahkan dalam beberapa hadist pun dijelaskan bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi dan menyelenggarakan pernikahan yang berdasarkan syariat Islam.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Wanita yang paling banyak mendapat karunia ialah wanita yang murah mas kawinnya, yang senang nikahnya, dan baik budi pekertinya. Dan wanita yang jahat ialah wanita yang mahal mas kawinnya, payah nikahnya, dan buruk budi pekertinya.”

Dalam hadist lain Rasulullah SAW juga menegaskan, ”Sejahat – jahat jamuan ialah jamuan walimah ( pernikahan ) yang mengundang orang – orang kaya dan meninggalkan orang – orang yang fakir.”( HR. Bukhori – Muslim )

Jadi untuk para wanita, marilah kita mengintrospeksi diri. Bukan opini dan puji masyarakat yang kita cari, melainkan ridho Allah yang hakiki. Tidakkah kita sadar bahwa ’apa – apa’ dalam pernikahan hanya akan memberatkan calon suami yang kita cintai? Yang terpenting dalam pernikahan bukanlah pada hari ’H’nya, melainkan yang akan kita jalani setelahnya. Bagaimana nanti dalam hidup berumah tangga sepasang suami – istri saling menolong untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah...saling mengingatkan untuk senantiasa beribadah kepada Allah...Dunia dan isinya hanya untuk sementara, akhiratlah tujuan akhir kita. Semoga kita nanti mendapatkan pasangan yang sholeh dan secepatnya dapat melaksanakan ’akad nikah’ dengan penuh keridhoan dari Allah. Amin...

No comments:

Post a Comment