BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Daya simpan telur, khususnya telur ayam, sangat pendek. Oleh karena itu, perlu adanya perlakuan khusus agar telur yang disimpan tetap tahan lama dalam kondisi yang segar. Salah satu upaya untuk memperpanjang kesegaran telur adalah dengan mengawetkannya. Pengawetan telur segar berguna dalam upaya mengatasi saat – saat harga telur tinggi. Untuk itu dicarilah upaya pengawetan telur yang mudah, sederhana, dan irit biaya.
Telur dapat bertahan lama dengan menaruhnya di tempat yang dingin, misalnya dengan menaruhnya di lemari es. Namun, tidak semua masyarakat memiliki lemari es. Apalagi pada musim panas, tentu telur akan sulit bertahan lama. Akibatnya, banyak masyarakat yang kesulitan untuk menjaga telur agar tetap segar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan dalam latar belakang di atas, adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : bagaimana upaya mengawetkan telur tanpa harus dimasukkan ke dalam lemari es, melalui pemanfaatan bahan – bahan yang bisa dijumpai dalam masyarakat dengan tidak mengeluarkan banyak biaya?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian karya ilmiah ini bertujuan untuk mencari upaya lain dalam pengawetan telur, khususnya pada masyarakat yang belum memiliki alat pendingin, seperti lemari es dengan menggunakan bahan – bahan yang bisa dijumpai dalam rumah tangga.
Adapun manfaat penelitian ini adalah dapat membantu masyarakat dalam mengawetkan telur tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
D. Metode Penelitian
Dalam penelitian hingga penyusunan karya ilmiah ini digunakan metode ilmiah berupa kepustakaan dan observasi dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pengumpulan data kepustakaan dan bahan/alat yang berkaitan dengan objek penelitian
2. Melakukan observasi (pengamatan) untuk mengetahui sampai sejauh mana hasil yang didapat dari uji coba yang dilakukan
3. Melakukan analisis dan kesimpulan dari hasil uji coba
Pada penelitian tersebut variabel bebas atau penyebabnya adalah pengolesan minyak kelapa. Untuk variabel terikat atau akibatnya adalah pengawetan telur ayam segar. Sedangkan variabel kontrolnya adalah telur dibiarkan (tanpa diolesi). Sebagai pembanding digunakan pengolesan telur dengan minyak curah dan air kapur.
D. Hipotesis
Sebelum melaksanakan penelitian, penulis mengambil hipotesis bahwa minyak kelapa lebih efektif digunakan untuk mengawetkan telur dalam waktu lama daripada minyak curah dan air kapur.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tinjauan Pustaka
1. Kualitas Telur
Kualitas telur ditentukan oleh dua faktor, yakni kualitas luarnya berupa kulit cangkang dan isi telur. Kualitas luar ini bisa berupa bentuk, warna, tekstur, keutuhan, dan kebersihan kulit cangkang. Sedangkan yang berkaitan dengan isi telur meliputi kekentalan putih telur, warna dan posisi telur, serta ada tidaknya noda-noda pada putih dan kuning telur.
Dalam kondisi baru, kualitas telur tidak banyak mempengaruhi kualitas bagian dalamnya. Jika telur tersebut dikonsumsi langsung, kualitas telur bagian luar tidak menjadi masalah. Tetapi jika telur tersebut akan disimpan atau diawetkan, maka kualitas kulit telur yang rendah sangat berpengaruh terhadap awetnya telur.
Kualitas isi telur tanpa perlakuan khusus tidak dapat dipertahankan dalam waktu yang lama. Dalam suhu yang tidak sesuai, telur akan mengalami kerusakan setelah disimpan lebih dari dua minggu. Kerusakan ini biasanya ditandai dengan kocaknya isi telur dan bila dipecah isinya tidak mengumpul lagi.
Dari beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, misalnya Haryoto (1996), Muhammad Rasyaf (1991), dan Antonius Riyanto (2001), dinyatakan bahwa kerusakan isi telur disebabkan adanya CO2 yang terkandung di dalamnya sudah banyak yang keluar, sehingga derajat keasaman meningkat. Penguapan yang terjadi juga membuat bobot telur menyusut, dan putih telur menjadi lebih encer. Masuknya mikroba ke dalam telur melalui pori-pori kulit telur juga akan merusak isi telur.
Telur segar yang baik ditandai oleh bentuk kulitnya yang bagus, cukup tebal, tidak cacat (retak), warnanya bersih, rongga udara dalam telur kecil, posisi kuning telur di tengah-tengah, dan tidak terdapat bercak atau noda darah.
2. Komposisi Telur
Telur ayam pada umumnya memiliki berat sekitar 50-57 gram perbutirnya, yang terdiri dari 11% bagian kulit telur, 50% bagian putih telur, 31% bagian kuning telur.
Telur adalah sumber protein bermutu tinggi, kaya akan vitamin dan mineral. Protein telur termasuk sempurna, karena mengandung semua jenis asam amino esensial dalam jumlah cukup seimbang. Asam amino esensial sangat dibutuhkan oleh manusia, karena tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari makanan yang dimakan.
Telur juga mengandung vitamin A, vitamin B Kompleks, dan vitamin D. Di samping itu telur juga mengandung sejumlah mineral seperti zat besi, fosfor, kalsium, sodium, dan magnesium dalam jumlah yang cukup. Semua unsur ini sangat penting guna meningkatkan pertumbuhan tubuh pada anak-anak dan remaja. Anak balita setiap hari membutuhkan kurang lebih 15 gram protein hewani. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi apabila anak balita mengkonsumsi 2 butir telur ayam perhari. Protein sangat dibutuhkan untuk membangun sel tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak. Itulah sebabnya telur sering diberikan kepada anak kecil untuk membantu pertumbuhan badan, dan kepada orang yang dalam proses penyembuhan guna mengganti sel tubuh yang rusak..
Komposisi zat gizi telur ayam dalam 100 gram
1. Kalori (kal) : 162,0
2. Protein (g) : 12,8
3. Lemak (g) :11,5
4. Karbohodrat (g) : 0,7
5. Kalsium (mg) : 54,0
6. Fosfor (mg) : 180,0
7. Besi (mg) : 2,7
8. Vitamin A : 900,0
9. Vitamin B : 0,1
10. Air (g) : 72
Sumber: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 1979
Semua gambaran di atas amat penting dijelaskan, betapa telur memiliki banyak elemen penting yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan penggantian sel tubuh manusia.
B. Langkah – Langkah Pengawetan Telur
1. Alat dan Bahan
Pegawetan telur ayam diteliti dengan menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:
1. Telur
2. Kapur
3. Kelapa
4. Parutan kelapa
5. Panci
6. Kertas
7. Spidol
8. Saringan kelapa
9. Wajan dan susuk
10. Kompor
11. Minyak tanah
12. Korek api
13. Kuas kecil
14. Air
15. Wadah
16. Minyak curah
2. Cara Kerja
Untuk menilai pengawetan telur ayam dilakukanlah pengujian selama 2 bulan atau 8 minggu dengan melakukan perbandingan untuk menilai kesegaran telur-telur tersebut setelah beberapa hari kemudian. Perbandingan itu dengan cara mengelompokkan telur-telur tersebut ke dalam 4 kelompok, sebagai berikut:
1. Kelompok telur I: Telur diolesi minyak curah
Telur yang akan diawetkan dicuci terlebih dahulu dan dikeringkan. Selanjutnya telur diolesi minyak curah dengan memakai kuas kecil. Setelah itu telur disimpan di tempat kering. Selama disimpan telur diusahakan tidak dipegang atau digoyang-goyang.
2. Kelompok II: Telur diolesi dengan air kapur
Kapur diberi air dan diaduk. Telur yang akan diawetkan dicuci terlebih dahulu. Setelah itu telur diolesi air kapur dengan menggunakan kuas kecil.
Pengawetan dengan air kapur ini sebagai pembanding model pengawetan lainnya, karena kita mengetahui bahwa cangkang telur terdiri dari zat kapur.
3. Kelompok III: Telur diolesi minyak kelapa
Langkah pertama kelapa dikupas dan diparut. Selanjutnya parutannya diremas-remas sambil ditambah air secukupnya. Hasilnya adalah berupa santan. Santan itu kemudian direbus selama kurang lebih 3 jam. Setelah menjadi minyak, pisahkan minyak tersebut dari ampasnya.
Tahap berikutnya ambil telur dan dicuci. Kemudian telur diolesi minyak kelapa dengan menggunakan kuas kecil. Biasanya, 1 liter minyak kelapa bisa digunakan untu mengawetkan telur sekitar 70 kg.
4. Kelompok IV: Telur dibiarkan (tanpa diolesi apa-apa)
Setelah telur dicuci, telur disimpan di tempat kering. Selama proses penyimpanan telur tidak boleh dipegang ataupun digoyang.
C. Analisis Hasil Penelitian
Dari hasil pengamatan diperoleh hasil, bahwa telur ayam yang diolesi minyak kelapa dapat bertahan kesegarannya selama 2 bulan atau 8 minggu. Sedangkan telur yang diolesi minyak curah bagian kuning telur sudah tidak utuh, membusuk, dan berbau.
Untuk telur yang diolesi air kapur, kuning telurnya tidak utuh, busuk, terdapat banyak belatung, dan berbau. Demikian pula pada telur yang dibiarkan (tanpa diolesi) kesegarannya hanya bertahan 1 minggu, setelah itu kuning telurnya sudah tidak utuh, busuk, terdapat banyak belatung, dan berbau.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa cara pengawetan telur ayam segar selain dimasukkan lemari es, dapat pula dilakukan mengolesi telur dengan minyak kelapa. Pengolesan telur ayam dengan minyak kelapa mampu mempertahankan kesegaran telur selama 8 minggu atau 2 bulan.
Pengawetan telur dengan minyak kelapa tidak hanya mampu mempertahankan kesegaran telur, tapi juga mampu mempertahankan keutuhan nilai gizinya. Hal ini amat menguntungkan, karena selain prosesnya mudah juga irit dalam biaya.
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan, antara lain :
1. Dalam membeli telur pilihlah telur yang baik, yaitu telur yang memiliki ukuran dan bentuk yang proporsional
2. Sebelum telur disimpan untuk mempertahankan kesegarannya telur dicuci bersih terlebih dahulu agar tidak terinfeksi bakteri
3. Sebaiknya telur yang diawetkan disimpan dalam rak
4. Masyarakat kiranya perlu mencoba melakukan upaya agar telur tetap dalam keadaan segar dengan cara diolesi minyak kelapa, karena bisa mempertahankan kesegaran telur dengan biaya murah.
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan. 2004. Panduan Lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) Siswa SMP/MTs Se-Kabupaten Pekalongan
Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Reseach. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Haryoto. 1996. Pengawetan Telur Segar. Yogyakarta: Kanisius.
Rashaf, Muhammad. 1991. Pengelolaan Produksi Telur. Yogyakarta: Kanisius.
Riyanto, Antonius. 2001. Sukseskan Menetaskan Telur Ayam. Jakarta: Andromedia Pustaka
"Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran. Dan orang-orang yang saling menasehati dalam kesabaran."(Q.S.Al-Ashr:1-4)
Monday, August 16, 2010
A Translation Assignment
A child who looks one’s father says zikir, tahlil, and tahmid, one will be able to say: Laa ilaaha illallah, Subhanallah, and Allahu akbar easily.
Likewise a child who is accustomed to be ordered by one’s parent to send alm to the poor people secretly at night, one will be certainly different with a child who is ordered to buy either drug or cigarette.
A child who always looks one’s father fasts on both Sunday and Monday, one’s will be certainly different with a child who looks one’s father at the gambling place, cinema, or other places of intertainment.
You will see a child who lisen to adzan repeats singing adzan. And you will see a child sings a song which is always sung by one’s parent.
How so beautiful if a child is always kind to one’s parent by saying prayer and asking forgiveness to Allah for them. Besides, one always asks their conditions, feels comfort when they are together, fulfills their needs, and increases to say prayer by using expression:
Rabbigh firli waliwali dayya
“Our Lord! Cover ( us ) with thy forgiveness me snd my parent.”
Rabbirhamhuma kama robbayani shoghiro
“My Lord! Bestow on them thy mercy even as they cherished me in chilldhood.”
One also makes a devotional visit to the grave of one’s parentgives alm for them, connects bound of friendshipof people who close to them, and gives peoplewho are always given by them.
If a child looks at such good personalities of one’s parent, for the licenseof Allah, one will do what one’s parent have done. One will always ask forgiveness to Allah for them and do what they usually do to one’s grandparent.
A child who is taught by one’s parent to make sholat, one will be certainly different with a chold who is taught to watch movie, music, or soccer.
Actually, if a child looks one’s parent make midnight sholat while crying because of the fearness to Allah and reading the holy Qoran, one will certainly think why does one’s father cry? Why does he make sholat? Why does he choose the cold water for ablution?
Why does he leave his bed and choose to ask his Lord fearfully and hopefully?
All those questions will be always set on the mind of a child. One will always think about it. For the license of Allah, one will finally do what one’s parent have done.
Likewise a daughter who looks her mother always wear veil and close herself from another man, she has been adorned with the embarassed feeling and the attitude to keep respect. Her holines has madde her noble. The child of such mother will certainly learn to set the embarassed feeling, keeping respect, and holiness of her mother.
In the other cases, a daughter who looks her mother always dresses up in front of man, shakes hands, and has contact, laughs, and smiles at the other man, her daughter will certainly do the same.
Likewise a child who is accustomed to be ordered by one’s parent to send alm to the poor people secretly at night, one will be certainly different with a child who is ordered to buy either drug or cigarette.
A child who always looks one’s father fasts on both Sunday and Monday, one’s will be certainly different with a child who looks one’s father at the gambling place, cinema, or other places of intertainment.
You will see a child who lisen to adzan repeats singing adzan. And you will see a child sings a song which is always sung by one’s parent.
How so beautiful if a child is always kind to one’s parent by saying prayer and asking forgiveness to Allah for them. Besides, one always asks their conditions, feels comfort when they are together, fulfills their needs, and increases to say prayer by using expression:
Rabbigh firli waliwali dayya
“Our Lord! Cover ( us ) with thy forgiveness me snd my parent.”
Rabbirhamhuma kama robbayani shoghiro
“My Lord! Bestow on them thy mercy even as they cherished me in chilldhood.”
One also makes a devotional visit to the grave of one’s parentgives alm for them, connects bound of friendshipof people who close to them, and gives peoplewho are always given by them.
If a child looks at such good personalities of one’s parent, for the licenseof Allah, one will do what one’s parent have done. One will always ask forgiveness to Allah for them and do what they usually do to one’s grandparent.
A child who is taught by one’s parent to make sholat, one will be certainly different with a chold who is taught to watch movie, music, or soccer.
Actually, if a child looks one’s parent make midnight sholat while crying because of the fearness to Allah and reading the holy Qoran, one will certainly think why does one’s father cry? Why does he make sholat? Why does he choose the cold water for ablution?
Why does he leave his bed and choose to ask his Lord fearfully and hopefully?
All those questions will be always set on the mind of a child. One will always think about it. For the license of Allah, one will finally do what one’s parent have done.
Likewise a daughter who looks her mother always wear veil and close herself from another man, she has been adorned with the embarassed feeling and the attitude to keep respect. Her holines has madde her noble. The child of such mother will certainly learn to set the embarassed feeling, keeping respect, and holiness of her mother.
In the other cases, a daughter who looks her mother always dresses up in front of man, shakes hands, and has contact, laughs, and smiles at the other man, her daughter will certainly do the same.
MAKNA PERNIKAHAN DI MATA FITRI
Berawal dari sebaris tanya…
*FLASHBACK*
“Fit, mau ndak kalau diajak nikah tanpa ada apa-apa?”
Pertanyaan aneh tersebut tiba – tiba saja meluncur dari mulut mbak Linda. Saya yang sejak tadi duduk di depan pintu sambil berkutat dengan kaus kaki saya yang bau*hehehe*dengan segera langsung menoleh ke arah ruang tamu, tempat mbak Lin tengah asyik berbincang dengan Mas Mus, sambil memiringkan kepala.
Mungkin karena saat itu agak terburu – buru ( baca: tidak mau terlambat masuk kuliah ) sehingga tidak terlalu menghiraukan pertanyaan tersebut, saya pun hanya bisa menjawab ”Heh?” dan ”insyaAllah” bersamaan sambil terus berkutat dengan kesibukan saya, terbenam dengan urusan kaos kaki dan sepatu.
*END FLASHBACK*
Dan sekarang...dengan wajah menatap layar monitor, jari tangan bertengger manis di atas tuts - tuts keyboard...saya kembali memikirkan pertanyaan yang pernah diajukan mbak Lin tersebut.
”Mau ndak kalau diajak nikah tanpa ada apa – apa?”
Saya paham maksud ”apa – apa’ yang ingin ditekankan oleh mbak Lin adalah seserahan dalam lamaran dan resepsi yang biasanya digelar oleh pasangan yang akan menikah. Dan bukan hal baru lagi kalau di zaman serba modern ini setiap wanita menginginkan acara pernikahan yang ’wah’ dengan alasan ’hanya terjadi sekali seumur hidup’( jika kita mau mengansumsikan bahwa pernikahan tersebut bakal awet sampai uzur ). Paling tidak harus ada pesta dengan kedua mempelai duduk di atas singgasana dengan mengenakan pakaian kebesaran merekalah ( baca: gaun pengantin ).
Lantas apa pendapat Fitri, ehm...saya sendiri?
Menanggapi masalah pernikahan, saya rasa saya bukan tipe wanita yang terlalu ngoyo dalam artian segala sesuatunya harus dirayakan. Saya cenderung termasuk tipe yang lebih menyukai kesederhanaan. Akad nikah dilanjutkan dengan walimahan sederhana sudah cukup. Tak perlu pasang tenda besar...tak perlu gaun pengantin mewah...atau ribuan tamu undangan dengan sajian makanan prasmanan yang menggugah selera. Biasa aja deh...
Ikatan suci pernikahan tidak bisa dinilai hanya sebatas ’sebarapa banyak anda mendapat seserahan aneka warna’. Bukankan tujuan utama kita menikah adalah untuk beribadah kepada Allah? Bukankah melaksanakan pernikahan adalah salah satu upaya kita mengikuti sunnah Rasulullah? Bahkan dalam beberapa hadist pun dijelaskan bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi dan menyelenggarakan pernikahan yang berdasarkan syariat Islam.
Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Wanita yang paling banyak mendapat karunia ialah wanita yang murah mas kawinnya, yang senang nikahnya, dan baik budi pekertinya. Dan wanita yang jahat ialah wanita yang mahal mas kawinnya, payah nikahnya, dan buruk budi pekertinya.”
Dalam hadist lain Rasulullah SAW juga menegaskan, ”Sejahat – jahat jamuan ialah jamuan walimah ( pernikahan ) yang mengundang orang – orang kaya dan meninggalkan orang – orang yang fakir.”( HR. Bukhori – Muslim )
Jadi untuk para wanita, marilah kita mengintrospeksi diri. Bukan opini dan puji masyarakat yang kita cari, melainkan ridho Allah yang hakiki. Tidakkah kita sadar bahwa ’apa – apa’ dalam pernikahan hanya akan memberatkan calon suami yang kita cintai? Yang terpenting dalam pernikahan bukanlah pada hari ’H’nya, melainkan yang akan kita jalani setelahnya. Bagaimana nanti dalam hidup berumah tangga sepasang suami – istri saling menolong untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah...saling mengingatkan untuk senantiasa beribadah kepada Allah...Dunia dan isinya hanya untuk sementara, akhiratlah tujuan akhir kita. Semoga kita nanti mendapatkan pasangan yang sholeh dan secepatnya dapat melaksanakan ’akad nikah’ dengan penuh keridhoan dari Allah. Amin...
*FLASHBACK*
“Fit, mau ndak kalau diajak nikah tanpa ada apa-apa?”
Pertanyaan aneh tersebut tiba – tiba saja meluncur dari mulut mbak Linda. Saya yang sejak tadi duduk di depan pintu sambil berkutat dengan kaus kaki saya yang bau*hehehe*dengan segera langsung menoleh ke arah ruang tamu, tempat mbak Lin tengah asyik berbincang dengan Mas Mus, sambil memiringkan kepala.
Mungkin karena saat itu agak terburu – buru ( baca: tidak mau terlambat masuk kuliah ) sehingga tidak terlalu menghiraukan pertanyaan tersebut, saya pun hanya bisa menjawab ”Heh?” dan ”insyaAllah” bersamaan sambil terus berkutat dengan kesibukan saya, terbenam dengan urusan kaos kaki dan sepatu.
*END FLASHBACK*
Dan sekarang...dengan wajah menatap layar monitor, jari tangan bertengger manis di atas tuts - tuts keyboard...saya kembali memikirkan pertanyaan yang pernah diajukan mbak Lin tersebut.
”Mau ndak kalau diajak nikah tanpa ada apa – apa?”
Saya paham maksud ”apa – apa’ yang ingin ditekankan oleh mbak Lin adalah seserahan dalam lamaran dan resepsi yang biasanya digelar oleh pasangan yang akan menikah. Dan bukan hal baru lagi kalau di zaman serba modern ini setiap wanita menginginkan acara pernikahan yang ’wah’ dengan alasan ’hanya terjadi sekali seumur hidup’( jika kita mau mengansumsikan bahwa pernikahan tersebut bakal awet sampai uzur ). Paling tidak harus ada pesta dengan kedua mempelai duduk di atas singgasana dengan mengenakan pakaian kebesaran merekalah ( baca: gaun pengantin ).
Lantas apa pendapat Fitri, ehm...saya sendiri?
Menanggapi masalah pernikahan, saya rasa saya bukan tipe wanita yang terlalu ngoyo dalam artian segala sesuatunya harus dirayakan. Saya cenderung termasuk tipe yang lebih menyukai kesederhanaan. Akad nikah dilanjutkan dengan walimahan sederhana sudah cukup. Tak perlu pasang tenda besar...tak perlu gaun pengantin mewah...atau ribuan tamu undangan dengan sajian makanan prasmanan yang menggugah selera. Biasa aja deh...
Ikatan suci pernikahan tidak bisa dinilai hanya sebatas ’sebarapa banyak anda mendapat seserahan aneka warna’. Bukankan tujuan utama kita menikah adalah untuk beribadah kepada Allah? Bukankah melaksanakan pernikahan adalah salah satu upaya kita mengikuti sunnah Rasulullah? Bahkan dalam beberapa hadist pun dijelaskan bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi dan menyelenggarakan pernikahan yang berdasarkan syariat Islam.
Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Wanita yang paling banyak mendapat karunia ialah wanita yang murah mas kawinnya, yang senang nikahnya, dan baik budi pekertinya. Dan wanita yang jahat ialah wanita yang mahal mas kawinnya, payah nikahnya, dan buruk budi pekertinya.”
Dalam hadist lain Rasulullah SAW juga menegaskan, ”Sejahat – jahat jamuan ialah jamuan walimah ( pernikahan ) yang mengundang orang – orang kaya dan meninggalkan orang – orang yang fakir.”( HR. Bukhori – Muslim )
Jadi untuk para wanita, marilah kita mengintrospeksi diri. Bukan opini dan puji masyarakat yang kita cari, melainkan ridho Allah yang hakiki. Tidakkah kita sadar bahwa ’apa – apa’ dalam pernikahan hanya akan memberatkan calon suami yang kita cintai? Yang terpenting dalam pernikahan bukanlah pada hari ’H’nya, melainkan yang akan kita jalani setelahnya. Bagaimana nanti dalam hidup berumah tangga sepasang suami – istri saling menolong untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah...saling mengingatkan untuk senantiasa beribadah kepada Allah...Dunia dan isinya hanya untuk sementara, akhiratlah tujuan akhir kita. Semoga kita nanti mendapatkan pasangan yang sholeh dan secepatnya dapat melaksanakan ’akad nikah’ dengan penuh keridhoan dari Allah. Amin...
BEDAH NAMA “SESSION 2” ( Hehehe, kayak sinetron “Cinta Fitri” aja pake ’session’ segala, mentang – mentang yang nulis namanya Fitri juga :-p )
~Didedikasikan untuk kakak nun jauh di mata~
Berbekal tujuan yang sama....Mengungkap rahasia doa dibalik arti sebaris nama, berpegang pada sebuah buku nama yang dipinjam tanpa pernah dikembalikan, dan permintaan seorang kakak yang selalu berbaik hati mengingatkan saya untuk senantiasa beribadah...kali ini saya akan mencoba membedah nama beliau ( Duh, bahasanya kayak mau operasi aja >_< ).
Mas Udin...atau yang bernama lengkap Muhammad Burhanudin.
MUHAMMAD...
Seluruh alam semesta mengetahui beliaulah sang nabi akhir zaman...Rasul yang dikasihi Allah...Manusia pilihan yang dipastikan akan memasuki jannah tanpa hisab. Keberadaan beliau diantara umatnya pun dikenal tanpa cela. Pedagang yang ulung...Pemimpin yang tangguh...Bahkan mendapat gelar Al-Amin~Yang Terpercaya sejak beliu masih belia. Sebagai seorang suami, ayah sekaligus kakek, beliau merupakan sosok yang penuh dengan kasih sayang. Kesempurnaan akhlak dan budi pekerti Rasulullah tersebut bahkan diakui pula oleh Allah Sang Pencipta Alam Semesta.
Allah berfirman dalam Q.S. Al – Qalam : 4.
”Dan sesungguhnya kamu benar – benar berbudi pekerti yang agung.”
Oleh karena itu, kita sebagai umat islam sepatutnyalah berusaha meneladani sifat – sifat beliau karena ”Sesungguhnya telah ada pada( diri ) Rasulullah itu suri tauladan bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”( Q.S. Al – Ahzab : 21 )
BURHANUDIN...
Diambil dari bahasa Arab...Burhan = dalil, bukti, cahaya dan Din = agama. Kata Burhanudin sendiri berarti cahaya agama...cahaya menunjukkan adanya harapan, dan harapan selalu diikuti dengan perjuangan...berjuang di jalan Allah...melakukan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran...mengerahkan segenap jiwa dan raga atas nama Allah demi menegakkan syariat Islam...
”Serulah ( manusia ) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan – Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang – orang yang mendapat petunjuk.”( Q.S. An -0 Nahl : 125 ). Maka ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ’Sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang menyerah diri’?”( Q.S. Funshilat :33 )
KESIMPULANNYA...
Jadi, orang tua hebat yang telah memberikan nama ’Muhammad Burhanudin’ kepada anaknya pasti menginginkan agar kelak anak tersebut memiliki akhlak yang baik sebaik akhlak Rasulullah Muhammad SAW serta dapat menjadi seseorang yang senantiasa berjuang di jalan Allah untuk menegakkan syariat Islam. Semoga Mas Udin dapat menjadi sosok yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kedua orang tuanya. Amin...
Berbekal tujuan yang sama....Mengungkap rahasia doa dibalik arti sebaris nama, berpegang pada sebuah buku nama yang dipinjam tanpa pernah dikembalikan, dan permintaan seorang kakak yang selalu berbaik hati mengingatkan saya untuk senantiasa beribadah...kali ini saya akan mencoba membedah nama beliau ( Duh, bahasanya kayak mau operasi aja >_< ).
Mas Udin...atau yang bernama lengkap Muhammad Burhanudin.
MUHAMMAD...
Seluruh alam semesta mengetahui beliaulah sang nabi akhir zaman...Rasul yang dikasihi Allah...Manusia pilihan yang dipastikan akan memasuki jannah tanpa hisab. Keberadaan beliau diantara umatnya pun dikenal tanpa cela. Pedagang yang ulung...Pemimpin yang tangguh...Bahkan mendapat gelar Al-Amin~Yang Terpercaya sejak beliu masih belia. Sebagai seorang suami, ayah sekaligus kakek, beliau merupakan sosok yang penuh dengan kasih sayang. Kesempurnaan akhlak dan budi pekerti Rasulullah tersebut bahkan diakui pula oleh Allah Sang Pencipta Alam Semesta.
Allah berfirman dalam Q.S. Al – Qalam : 4.
”Dan sesungguhnya kamu benar – benar berbudi pekerti yang agung.”
Oleh karena itu, kita sebagai umat islam sepatutnyalah berusaha meneladani sifat – sifat beliau karena ”Sesungguhnya telah ada pada( diri ) Rasulullah itu suri tauladan bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”( Q.S. Al – Ahzab : 21 )
BURHANUDIN...
Diambil dari bahasa Arab...Burhan = dalil, bukti, cahaya dan Din = agama. Kata Burhanudin sendiri berarti cahaya agama...cahaya menunjukkan adanya harapan, dan harapan selalu diikuti dengan perjuangan...berjuang di jalan Allah...melakukan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran...mengerahkan segenap jiwa dan raga atas nama Allah demi menegakkan syariat Islam...
”Serulah ( manusia ) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan – Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang – orang yang mendapat petunjuk.”( Q.S. An -0 Nahl : 125 ). Maka ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ’Sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang menyerah diri’?”( Q.S. Funshilat :33 )
KESIMPULANNYA...
Jadi, orang tua hebat yang telah memberikan nama ’Muhammad Burhanudin’ kepada anaknya pasti menginginkan agar kelak anak tersebut memiliki akhlak yang baik sebaik akhlak Rasulullah Muhammad SAW serta dapat menjadi seseorang yang senantiasa berjuang di jalan Allah untuk menegakkan syariat Islam. Semoga Mas Udin dapat menjadi sosok yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kedua orang tuanya. Amin...
Tuesday, August 10, 2010
Tragedi "Kenyot" Calista
Maluk, 14 Maret 2010
Sebuah ‘kenyot’ berwarna pink Minggu malam sekitar pukul 21.00 WITA telah jatuh ke dalam saluran air yang ada di depan Counter Cedara-Pits di Gang Jeruk, Desa Bukit Damai, Maluk. ’Kenyot’ yang diperkirakan telah setahun dimiliki oleh bayi Ibu Piani ( 38th ) yang bernama Calista ( 7bln ) ini, jatuh akibat dilempar oleh Calista sendiri. Menurut salah seorang saksi mata, Mbak Vivi ( 41th ) yang saat itu ikut duduk bersama Ibu Piani di depan counter, ’kenyot’ tersebut sebenarnya telah dua kali jatuh ke tanah akibat dilempar oleh Calista. Namun, kali ketiga ’kenyot’ tersebut justru jatuh ke dalam saluran air yang berada tepat di bawah box yang saat itu tengah digunakan untuk duduk. Kontan semua orang yang saat itu berada di sekitar tempat kejadian langsung histeris. Bahkan Mbak Vivi sempat menyarankan untuk mengambil ’kenyot’ yang jatuh tersebut. Tetapi dengan tegas Ibu Piani menolaknya karena kondisi ’kenyot’yang sudah sangat memprihatinkan akibat terkena air got yang kotor sehingga tidak mungkin diberikan lagi kepada Calista. Ibu Piani akhirnya mengambil keputusan untuk menggantinya dengan ’kenyot’ baru berwarna biru yang dibeli oleh Dinda ( 11th ), kakak Calista, di Moro Seneng dengan harga Rp. 17.000,00. Sementara itu, Calista sebagai pelaku tunggal atas tragedi ’kenyot’ tersebut diganjar hukuman dengan dimarahi habis-habisan oleh Ibu Piani selaku ibu kandungnya. Ibu Piani juga memberikan tali pada ’kenyot’ Calista yang baru sebagai antisipasi agar kejadian mengerikan tersebut tidak akan terulang kembali. ( Ukhti Fitri )
Hehehe, berita iseng yang kebetulan ’nemu’ di file lama. Kejahatan bisa terjadi dimana saja, tergantung jenis kejahatan dan usia pelakunya. WASPADALAH!! WASPADALAH!!
Sebuah ‘kenyot’ berwarna pink Minggu malam sekitar pukul 21.00 WITA telah jatuh ke dalam saluran air yang ada di depan Counter Cedara-Pits di Gang Jeruk, Desa Bukit Damai, Maluk. ’Kenyot’ yang diperkirakan telah setahun dimiliki oleh bayi Ibu Piani ( 38th ) yang bernama Calista ( 7bln ) ini, jatuh akibat dilempar oleh Calista sendiri. Menurut salah seorang saksi mata, Mbak Vivi ( 41th ) yang saat itu ikut duduk bersama Ibu Piani di depan counter, ’kenyot’ tersebut sebenarnya telah dua kali jatuh ke tanah akibat dilempar oleh Calista. Namun, kali ketiga ’kenyot’ tersebut justru jatuh ke dalam saluran air yang berada tepat di bawah box yang saat itu tengah digunakan untuk duduk. Kontan semua orang yang saat itu berada di sekitar tempat kejadian langsung histeris. Bahkan Mbak Vivi sempat menyarankan untuk mengambil ’kenyot’ yang jatuh tersebut. Tetapi dengan tegas Ibu Piani menolaknya karena kondisi ’kenyot’yang sudah sangat memprihatinkan akibat terkena air got yang kotor sehingga tidak mungkin diberikan lagi kepada Calista. Ibu Piani akhirnya mengambil keputusan untuk menggantinya dengan ’kenyot’ baru berwarna biru yang dibeli oleh Dinda ( 11th ), kakak Calista, di Moro Seneng dengan harga Rp. 17.000,00. Sementara itu, Calista sebagai pelaku tunggal atas tragedi ’kenyot’ tersebut diganjar hukuman dengan dimarahi habis-habisan oleh Ibu Piani selaku ibu kandungnya. Ibu Piani juga memberikan tali pada ’kenyot’ Calista yang baru sebagai antisipasi agar kejadian mengerikan tersebut tidak akan terulang kembali. ( Ukhti Fitri )
Hehehe, berita iseng yang kebetulan ’nemu’ di file lama. Kejahatan bisa terjadi dimana saja, tergantung jenis kejahatan dan usia pelakunya. WASPADALAH!! WASPADALAH!!
Sunday, August 8, 2010
BEDAH NAMA: Di Balik Arti Fitri Ermawati
Tahukah teman-teman kalau setiap nama pasti punya arti ? Apakah teman-teman juga pernah memikirkan arti dari nama-nama kalian ?
Umat muslim, khususnya muslim Indonesia, percaya bahwa nama adalah doa. Setiap nama yang dimiliki oleh seseorang mangandung arti yang sekaligus berfungsi sebagai doa bagi orang yang bersangkutan. Misalnya, nama seseorang memiliki arti sholeh, secara tersirat orang tua selaku sang pemberi nama mendoakan agar anak mereka tersebut menjadi anak yang sholeh.
FYI, ternyata tidak semua nama memiliki arti yang baik. Ada juga nama yang memiliki arti yang mungkin untuk sebagian orang sangat tidak diharapkan. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena sang pemberi nama hanya asal-asalan saja menetapkan tanpa tahu arti sebenarnya dari nama tersebut.
Wah, saya jadi penasaran kira-kira apa arti dari nama saya, Fitri Ermawati. Apakah baik ? * Amin* Atau sebaliknya, justru buruk *Na’udzubillah*. Setelah melakukan penelitian lewat buku berjudul “Sejuta Arti Nama Untuk Sang Buah Hati” yang saya pinjam dari perpustakaan pribadi bibi tercinta, akhirnya saya pun tahu kebenarannya. Berikut hasil riset – Arti Dibalik Fitri Ermawati.
FITRI…Berasal dari bahasa Arab yang berarti kesucian, kesederhanaan. Suci = bersih, bersih dari noda, bersih dari dosa ( Amin), dan bersih darri hal-hal yang bertentangan dengan adab masyarakat dan syariat agama. Sederhana = rendah hati, tidak neko-neko, bersikap apa adanya, dan selalu berusaha untuk low profile ( wah, saya banget tuh,hehe ).
ERMA…Memiliki arti ‘wanita bangsawan’ dalam bahasa Teutonic. Kalau diartikan secara harfiah, bisa juga berarti seseorang yang memiliki kepribadian layaknya seorang bangsawan. Cerdas, terdidik, berdedikasi …Jiwa pemimpin, bertanggung jawab, bisa diandalkan…Baik budi, sopan, yang jelas inner beauty sempurna.
WATI…Merupakan bahasa Sansekerta yang bermakna cerdas, pintar, jenius, dan sejenisnya. Mudah menerima ilmu…Gampang menyerap informasi.
Jadi, dari uraian yang sudah dijelaskan tersebut saya bias menarik satu kesimpulan pasti. Ternyata nama Fitri Ermawati jika diartikan dalam berbagai bahasa berarti wanita dengan inner beauty sempurna yang cerdas dan suci. Hehehe, semoga arti nama tersebut benar-benar terjadi. AMIN YA RABBAL ‘ALAMIN.
Umat muslim, khususnya muslim Indonesia, percaya bahwa nama adalah doa. Setiap nama yang dimiliki oleh seseorang mangandung arti yang sekaligus berfungsi sebagai doa bagi orang yang bersangkutan. Misalnya, nama seseorang memiliki arti sholeh, secara tersirat orang tua selaku sang pemberi nama mendoakan agar anak mereka tersebut menjadi anak yang sholeh.
FYI, ternyata tidak semua nama memiliki arti yang baik. Ada juga nama yang memiliki arti yang mungkin untuk sebagian orang sangat tidak diharapkan. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena sang pemberi nama hanya asal-asalan saja menetapkan tanpa tahu arti sebenarnya dari nama tersebut.
Wah, saya jadi penasaran kira-kira apa arti dari nama saya, Fitri Ermawati. Apakah baik ? * Amin* Atau sebaliknya, justru buruk *Na’udzubillah*. Setelah melakukan penelitian lewat buku berjudul “Sejuta Arti Nama Untuk Sang Buah Hati” yang saya pinjam dari perpustakaan pribadi bibi tercinta, akhirnya saya pun tahu kebenarannya. Berikut hasil riset – Arti Dibalik Fitri Ermawati.
FITRI…Berasal dari bahasa Arab yang berarti kesucian, kesederhanaan. Suci = bersih, bersih dari noda, bersih dari dosa ( Amin), dan bersih darri hal-hal yang bertentangan dengan adab masyarakat dan syariat agama. Sederhana = rendah hati, tidak neko-neko, bersikap apa adanya, dan selalu berusaha untuk low profile ( wah, saya banget tuh,hehe ).
ERMA…Memiliki arti ‘wanita bangsawan’ dalam bahasa Teutonic. Kalau diartikan secara harfiah, bisa juga berarti seseorang yang memiliki kepribadian layaknya seorang bangsawan. Cerdas, terdidik, berdedikasi …Jiwa pemimpin, bertanggung jawab, bisa diandalkan…Baik budi, sopan, yang jelas inner beauty sempurna.
WATI…Merupakan bahasa Sansekerta yang bermakna cerdas, pintar, jenius, dan sejenisnya. Mudah menerima ilmu…Gampang menyerap informasi.
Jadi, dari uraian yang sudah dijelaskan tersebut saya bias menarik satu kesimpulan pasti. Ternyata nama Fitri Ermawati jika diartikan dalam berbagai bahasa berarti wanita dengan inner beauty sempurna yang cerdas dan suci. Hehehe, semoga arti nama tersebut benar-benar terjadi. AMIN YA RABBAL ‘ALAMIN.
Subscribe to:
Comments (Atom)